Selasa, 05 November 2013

Prof. Dr. Syekh Muhammad Hassan Hitou

Direktur Pusat Studi Ilmu-ilmu
Keislaman Internasional, Cianjur.
Paduan Ilmu dan Kekayaan
Siang itu, Jum’at (30/09), suasana Puncak, Kabupaten Bogor, sangat cerah. Jalanan cukup lengang, tidak ada kemacetan berarti seperti yang biasa terjadi di akhir pekan. Hamparan hijau kebun teh sepanjang jalan yang kami lewati  menambah suasana teduh. Hari itu, kami akan menemui seorang ulama besar dari Syiria yang mendirikan pesantren mahasiswa di Cipanas, Cianjur Jawa Barat.
Sebelum sampai di tempat yang dituju, kami mampir di Masjid Al-Ihsan, Ciloto, Cipanas. Meski berstatus sebagai musafir, kami memutuskan untuk tetap menunaikan sholat Jum’at.
Di balik gerbang kampus yang sangat asri itu, nampak seseorang mengenakan jubah berwarna krem dan coklat, sepertinya sedang mengawasi beberapa tukang yang melakukan perbaikan bangunan. Melihat tamu datang, orang tesebut nampak tersenyum ramah. Itulah sosok Prof Dr, Syekh Muhammad Hassan Hitou.
Romongan kami dibagi dua. Saya dan Pak Pujo Kusharyadi (Dir. Marketing) diterima di kantor kampus. Sedangkan rombongan Ibu Ratna Handini (Komisaris MU) diterima oleh istri Syekh Hassan di rumahnya didampingi kedua putri beliau dan beberapa ustadzah.
Ruang tamu di kantor kampus tempat kami wawancara letaknya menghadap ke perbukitan. Suasana alami begitu terasa. Saat menemui kami, Syekh Hassan mengajak empat orang ustadz. Satu dari Indonesia, Ustadz Abdurrahman Naim, Sekretaris Pesantren dan tiga orang ustadz dari Damaskus, Syiria, yaitu Ustadz Sadi Arbas, Ustadz Mahir Sholuha dan Ustadz Anas Sarfawi.
Kagum dengan Indonesia
Berikut ringkasan wawancara Fahrurozi, Pimpinan Redaksi Media Ummat (MU) bersama Syekh Muhammad Hassan Hitou (SH):
MU: Kapan pertama kali Syekh berkunjung ke Indonesia..?.
SH: Saya pertama kali ke Indonesia sudah 15 tahun yang lalu, ya mungkin sudah 18 tahun yang lalu. Saya memiliki banyak teman di Indonesia sewaktu kami sama-sama belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
MU: Faktor apa yang mendorong tuan untuk mendirikan lembaga pendidikan dan dakwah di Indonesia?
SH: Pertama, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Kedua, Karakteristik orang-orang Indonesia sangat baik, mereka ramah, lembut dan terbuka. Ketiga, ummat Islam Indonesia harus benar-benar memahami agamanya sesuai syariat tanpa harus belajar ke luar negeri.
MU: Bagaimana pendapat tuan tentang pondok-pondok yang ada di Indonesia, baik pesantren salaf maupun modern..?.
SH: Semua pesantren yang mengajarkan syariat Islam sesuai dengan paham ahlussunnah wal jamaah, kalau ajarannya tidak menyimpang dan benar-benar mengajak ummat kepada agama Allah dengan dakwah maupun pendidikan, maka kami sangat mendukung. Semuanya baik dan kami siap bekerjasama dengan semuanya. Kecuali kalau ada pesantren atau ajaran yang ingin menghancurkan tradisi keislaman Indonesia maka itu tidak dibenarkan. Kami tidak pernah punya maksud untuk menghilangkan tradisi atau budaya ummat Islam yang telah berlaku di Indonesia.
MU: Sudah berapa lembaga pendidikan yang tuan dirikan di Indonesia selain yang ada di Cianjur ini?
SH: saat ini sudah ada beberapa lembaga yang kami dirikan, di Sumatera, di Pinang Tua ada dua, di Pandeglang Banten. Di Cianjur ini, selain Kampus ini juga ada tiga pesantren. Mahad Al-Budr, Mahad Al-Barokah dan mahad Al-Yumn. Rencananya kami ingin mendirikan 100 pesantren atau lembaga pendidikan, baik mahad maupun jamiah (perkuliahan). Saya adalah pengajar (muallim) saya hanya ingin mengajarkan ilmu agama dan juga bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an dan Hadits Nabi.
MU: Tentu dalam melaksanakan program-program tersebut dibutuhkan biaya, kira-kira dari mana sumber pembiayaannya..?
SH: Sumber dananya dari saya pribadi serta murid-murid saya yang ada di Kuwait. Kami tidak meminta bantuan pemerintah apalagi partai politik. Ini adalah bentuk perjuangan atau jihad kami dengan harta atau diri kami untuk memajukan agama kami. Namun, kalau ada yang mau ikut membantu dana, maka kami siap menerimanya asalkan tidak disertai persyaratan macam-macam. Tapi murni membantu karena Allah.
MU: Bagaimana pendapat tuan tentang kebiasaan ummat Islam Indonesia yang senang menggelar majelis maulid, majelis dzikir dan majelis haul?.
SH: Majelis-majelis maulid dan dzikir tentu sangat baik dan itu sudah menjadi tradisi di berbagai negara, kamipun sudah terbiasa. Demikian juga, majelis haul selama diisi dengan pembacaan ayat-ayat al-Qur’an, dzikir, pengajian dan berbagai hal-hal yang baik, kami rasa itu tidak ada masalah.
MU: Bagaimana tanggapan tuan dengan gerakan terorisme yang akhir-akhir ini muncul termasuk di Indonesia.?
SH: Gerakan terorisme bukanlah ajaran Islam, itu tidak ada kaitannya dengan syariat Islam. Itu adalah gerakan-gerakan perorangan atau kelompok tertentu yang tidak bisa diatas namakan Islam. Kami melalui Pusat tudi Keilmuan Islam Internasional di Jerman juga sudah menolak adanya gerakan-gerakan tersebut. Kita ingin mengajarkan pendidikan Islam yang benar dan akhlak yang baik serta dakwah yang santun. (Fahrurozi/MU)
Seperti Keluarga Sendiri
Bagi alumnus Al-Azhar dari Indonesia di era 70an, nama Syekh Muhammad Hassan Hitou tentu tidak asing lagi.Maklum, ketika belajar di Al- Azhar, Syekh Hassan sudah menjalin hubungan erat dengan mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina dan Kamboja. Walaupun status beliau masih sebagai mahasiswa, namun, beliau telah mencoba memberikan bantuan, baik bimbingan maupun dana kepada saudara-saudaranya dari negara-negara tersebut .
Karena memiliki begitu banyak kawan dari Indonesia ketika kuliah di Al-Azhar, maka saat beliau datang ke Indonesia sekitar tahun 1980-an, Syekh Hassan sama sekali tidak merasa sebagai orang asing. Bahkan sebaliknya, beliau seperti sedang berada di tengah keluarga dan saudara sendiri. Kemanapun pergi, beliau mendapatkan sambutan hangat dari berbagai lapisan masyarakat.
Syekh Hassan juga telah bertemu dengan beberapa mentri dan pejabat lainnya. Beliau menjelaskan aktivitasnya di Indonesia. Dengan tujuan agar masyarakat Indonesia mengetahui bahwa semua aktivitas beliau dilakukan secara transparan dan terbuka, sehingga tidak ada perasaan apapun atau kecurigaan terhadap kegiatan beliau.
Sangat Produktif
Syekh Hassan Hitou lahir pada 10 Oktober 1843 di Damaskus. Beliau menyandang gelar PhD dari Universitar Al-Azhar Kairo Mesir (1973). Spesialisasinya adalah fiqh dan usul fiqh. Namun spesialisasi khususnya adalah ushul fiqh. Beliau kuliah di Fakultas Syariah. Tesisnya berjudul Imam As-Syairazi-Kehidupan dan asal-usulnya- Pemahaman tentang Usul Fiqh.
Kedalaman ilmunya membuat beliau diminta untuk mengajar di berbagai universitas. Beliau adalah dosen di beberapa Universitas di Kuwait dan Jerman, seperti Fakultas Syari’ah Universitas Kuwait (1981-1995), Fakultas Hukum Universitas Kuwait (1979-1981), Fakultas Pendidikan Dasar Universitas Muhammad Bin Saud (1975-1979).Dan Sekarang beliau bertugas sebagai direktur Pusat Ilmu-ilmu Keislaman InternasionalĂ‚  di Jerman yang saat ini telah dibuka cabangnya di Cianjur, Jawa Barat
Sebagai ilmuwan, Syekh Hassan Hitou telah menghasilkan banyak karya ilmiah. Diantara karyanya adalah:

Hadits Mursal Sebagai Dalil, Dampaknya Terhadap Fiqih Islam
Al Wajiz Fi Ushul Tasyri
Ringkasan Dasar Penentuan Hukum
Kesimpulan tentang Ushul Fiqh
Pembuka Tabir tentang Sunnah Doa Qunut pada Shalat Shubuh
Imam Abu Ishaq As Syairazi (Riwayat hidup dan asal usulnya)
Pemahaman Tentang Ushul Fiqh
Al Mankhul dari Komentar Ushul
Langkah Awal untuk Mengeluarkan Penilaian Dari Dasar Hukum
Al-Qowati dalam Ushul Fiqh
Ushul Fiqh dan Ketentuannya
Ijtihad dan Jenis Penggali Hukum
Tingkatan Penggali Hukum
Pengikut Imam syafi’i
Fiqih Puasa
Larangan tentang Hukum Menyusui
Mujizat Al Qur’an
Mereka yang Mengaku Sebagai ahli Fiqh
Akal dan Alam Ghoib
Agama dan Ilmu Pengetahuan
Sistem dalam Sejarah Definis Hadits
Sistem Para Perawi Hadits Dalam Kitab al Muwatho
Dalam Perjalanan dakwah
Kepedihan dan Harapan
Ensiklopedi Fiqih Imam Syafi’i dan perbandingan
Selain menulis kitab, beliau juga aktif dalam syiar Islam melalui radio, antara lain, tentang ushul fiqh Islam (disiarkan oleh Radio Kuwait dalam 153 seri) Mu’jizat al-Qur’an (83 seri), hukum puasa (30 seri), agama ilmu pengetahuan dan kehidupan (30 seri).

http://mediaummat.co.id/prof-dr-syekh-muhammad-hassan-hitou/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar